CERITA SILAT PEDANG PEMBUNUH NAGA PDF

Boe Kie jadi lebih bingung. Cocoe Nio nio menghadapi bahaya, apa tak baik kita berdamai saja? Kami akan mengambil dua jilid kitab yang berada pada Cioe Kauwnio sedang kau bebas untuk menolong Koencoe. Ilmu silat Hian beng Jieloo sudah sangat tinggi. Jika memperoleh kedua kitab itu kepandaian mereka akan mencapai tingkat yang tak akan bisa ditaklukkan oleh siapapun juga.

Author:Tazuru Vudokora
Country:El Salvador
Language:English (Spanish)
Genre:Personal Growth
Published (Last):22 March 2011
Pages:109
PDF File Size:2.79 Mb
ePub File Size:6.87 Mb
ISBN:538-7-21006-633-7
Downloads:35881
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Daill



Sebagai seorang yang bergelar Kim-mo Say ong, kepandaian Cia Soen dalam ilmu menangkap dan melatih binatang dapat dikatakan tidak bandingannya didalam dunia. Coei San mengajak ia pergi keberbagai pelosok pulau itu dan sekali pergi, ia tidak melupakan lagi jalanan jalanannya.

Dalam pembagian pekerjaan, Cia Soen bertanggung jawab untuk menyediakan daging kepada keluarganya, menangkap menjangan atau memburu biruang. Kadang-kadang sikera merah mengikut, tapi karena cara kera itu membinasakan biruang terlalu mudah, maka Cia Soen berbalik tidak merasa gembira. Semula ia masih suka mengajaknya untuk dijadikan penunjuk jalan, tapi sesudah mengenal jalanan, ia tidak mempermisikan lagi dia mengikut dan memerintahkannya berdiam untuk ber mainmain dengan Boe Kie. Beberapa tahun telah lewat dengan aman sentosa.

Bayi itu bertubuh kuat, tidak pernah mengenal penyakit, dan dengan cepatnya sudah menjadi seorang anak yang mungil dan subur. Diantara ketiga orang tua itu, Cia Soen lah yang paling memanjakannya. Setiap kali Coei San atau So So mau nenghukumnya, karena ia terlalu nakal, Cia Soen selalu datang disama tengah dan menghalang halangi. Dengan demikian, saban-saban ayah dan ibu kandungnya bergusar, ia tentu lari ketempat sang ayah angkat untuk meminta pertolongan.

Kedua orang tuanya hanya dapat menggeleng-geleng kan kepala dan menggerutu, bahwa anak itu terlalu dimanja oleh sang toako. Waktu Boe Kie berusia empat tahun, So So lalu mulai mengajar ilmu surat kepadanya.

Pada hari ulang tahunnya yang kelima, Coei San berkata: "toako, anak kita sudah boleh belajar silat. Mulai hari ini, kurasa kau sudah boleh mengajarnya. Apa Toako setuju? Jika sekarang aku yang mengajarnya, ia tak mengerti.

Sebaiknya, lebih dulu kau menurunkan ilmu Boe tong Sim hoat dan sesudah is berusia delapan tahun, barulah aku yang mengajarnya. Sesudah aku mengajar dua tahun, kamu sudah boleh pulang! So So kaget dan heran. Pulang ke Tionggoan? Aku mendapat kenyataan, bahwa saban tahun pada malam yang paling panjang, turunlah angin yang meniup keras terus menerus sampai beberapa puluh malam.

Sebelum waktu itu tiba, kita dapat membuat sebuah getek yang besar, memasang layar dan jika Langit tidak mengacau, mungkin sekali kalian bisa ditiup angin sampai di Tionggoan. Jika anak kita berdampingan terlalu lama denganku, Langit mungkin akan menggusari dia dan dia bisa celaka. Tapi sesaat kemudian, mereka manganggap, bahwa sang kakak bicara sembarangan saja dan hati mereka jadi lebih lega.

Mulai hari itu, Coei San mulai memberi pelajaran Lweekang kepada puteranya. Ia menganggap bahwa bagi anaknya yang masih begitu kecil, pelajaran Lweekang untuk menguatkan diri sudahlah cukup.

Disamping itu, dengan berdiam dipulau tersebut, anak itu sebenarnya tidak perlu memiliki ilmu silat, karena tidak ada kemungkinan untuk berkelahi. Mengenai kesempatan pulang ke Tionggoan tidak pernah disebut-sebut lagi oleh Cia Soen, sehingga Coei San dan So So menganggap, bahwa kakak mereka sudah berkata begitu secara sembarangan saja.

Waktu Boe Kie berusia delapan tahun, benar saja Cia Soen mengajukan untuk memberi pelajaran ilmu silat. Tapi ia mengadakan peraturan, bahwa waktu ia menurunkan pelajaran, baik Coei San maupun So So tidak boleh turut menyaksikan. Peraturan itu yang sudah lazim dalam Rimba Persilatan, tidak pernah dibantah oleh mereka.

Mereka tahu, bahwa sang kakak akan memberi pelajaran yang sebaik baiknya kepada Boe Kie. Sang tempo lewat dengan cepat dan tahu-tahu Boe Kie sudah menerima pelajaran setahun lebih dari ayah pungutnya. Semenjak terlahirnya anak itu, karena hatinya bahagia dan mempunyai tugas tertentu, Cia Soen tak pernah memperhatikan lagi To liong to. Pada suatu malam, karena tak dapat pulas. Coei San keluar dari guha dan jalanjalan diseputar situ. Tiba-tiba ia lihat Cia Soen sedang bersila diatas satu batu besar sambil mencekal golok mustika dengan kepala menunduk.

Baru saja ia mau menyingkir diri, sang kakak yang sudah mendengar suara tindakannya sudah keburu berseru: "Ngotee, kurasa kata-kata Boe lim coe-coan, poto To liong hanya kata-kata kosong belaka. Toako adalah seorang yang berpengetahuan tinggi, sehingga aku sesungguhnya tidak mengerti, mengapa kau percaya omongan itu? Ia sudah meninggal dunia lama sekali.

Kata-kata itu adalah untuk mengunjuk keempat Hweeshio lim sie, yaitu Kong kian, Kong boen, Koug tie dan Kong seng. Belakangan ia dengar dari gurunya, bahwa Kong kian telah meninggal dunia dan tak dinyana, sekarang ia mendapat tahu, bahwa pendeta suci itu telah dibinasakan oleh kakaknya. Cia Soen telah menghela napas panjang dan paras mukanya berubah sedih.

Ia mati sesudah dipukul tigabelas kali" Coei San jadi lebih kaget lagi. Seorang yang kuat menerima tigabelas pukulan Cia Soen, harus mempunyai kepandaian yang luar biasa tinggi. Sementara itu, paras muka Cia Soen jadi semakin suram dan terdapat sinar kemenyesalan yang sangat dalam. Coei San mengerti, bahwa dibalik kebinasaan Kong kian Taysoe bersembunyi peristiwa yang sangat mendukakan. Ia yakin bahwa kebinasaan pendeta suci itu bukan kejadian yang biasa saja.

Biarpun sudah delapan tahun mereka hidup bersama-sama dipulau itu sebagai saudara angkat, dalam rasa menghormat kepada kakak, dalam hati Coei San juga terdapat rasa jerih. Ia tidak berani menanya melit-melit, karena kuatir membangunkan peringatan tidak enak dari masa dahulu. Kong kian Taysoe sungguh seorang pendeta suci. Meskipun nama besarnya tidak begitu dikenal seperti adik adik seperguruannya, seperti Kong tie dan Kong seng, tapi menurut pendapatku, kepandaian kedua Taysoe itu tak dapat menandingi Kong kian Taysoe" Semenjak bertemu dengan Coei San, Cia Soen selalu memandang rendah kepada semua pentolan pentolan dunia.

Maka itu, Coei San heran tak kepalang ketika mendengar pujian terhadap Kong kian Taysoe. Cia Soen tidak kedengaran menjawab.

Ia bengong dan kedua matanya mengawasi ketempat jauh. Sungguh sayang! Jika waktu itu ia membalas, aku Cia Soen tentu tak bisa hidup sampai sekarang," "Apakah Kepandaian pendeta itu lebih tinggi daripada Toako? Coei San jadi makin heran. Ia hampir tak percaya keterangan kakaknya.

Gurunya sendiri, Thio Sam Hong, adalah salah seorang luar biasa pada jaman itu. Tapi ia yakin, bahwa Jika gurunya mesti bertanding dengan Cia Soen, paling banyak sang guru lebih unggul setengah tingkat. Jika Kong kian lebih unggul dari pada Cia Soen, bukankah gurunya sendiri tak akan dapat menandingi Kong kian? Tapi iapun mengenal kakaknya sebagai manusia yang sangat angkuh.

Jika ia tak benar-benar merasa takluk, ia pasti tak akan membuat pengakuan itu. Cia Soen rupanya dapat membaca apa yang dipikir oleh adiknya. Panggil Boe Kie sekarang. Katakan padanya, bahwa aku ingin menceritakan sebuah cerita dahulu. Maka itu, ia segera kembali keguhanya dan membangunkan arak itu. Mendengar ayah angkatnya mau bercerita, Boe Kie jadi girang dan mengia kan dengan suara keras-keras, sehingga ibunya turut tersadar.

Maka itu, mereka bertiga lantas saja pergi keguha Cia Sam untuk mendengari ceritera yang dijanjikan. Sesudah semua orang berkumpul, Cia Soen segera mulai: "Anak, tak lama lagi kau akan pulang ke Tionggoan" "Apa?

Ke Tionggoan? Cia Soen menggoyangkan tangan supaya anak itu jangan memutuskan omongannya dan berkata pula "Jika getek kita tenggelam dilaut atau ditiup angin ke samudera yang luas, maka kita boleh tak usah bicara lagi.

Tapi andaikata kita kembali ke Tiongggoan, aku ingin memberitahukan suatu hal kepadamu. Ingatlah hati manusia didalam dunia sangat jahat dan kau tidak boleh main percaya kepada siapapun jua kecuali ayah dan ibu sendiri. Aku nyesa1, bahwa diwaktu masih muda, tak pernah ada orang yang memberi nasehat itu kepadaku. Tapi biarpun ada yanh menasehati, waktu itu aku tentu tidak mau percaya. Karena melihat bakatku yarg sangat baik, Soehoe sangat menyayang aku dan telah menurunkan ilmu-ilmu silat yang istimewa kepadaku, sehingga dengan demikian, perhubungan kami adalah bagaikan ayah dan anak.

Ngotee, pada waktu itu, rasa cinta dan rasa hormat ku terhadap Soehoe kira-kira bersamaan seperti rasa cinta dan rasa hormatmu terhadap gurumu.

Aku keluar dari rumah perguruan dalam usia dua puluh tiga tahun. Tak lama kemudian, aku menikah, dan mempunyai seorang anak. Penghidupan kami sangat beruntung. Soehoe mampir dan berdiam berapa hari dirumahku. Aku girang bukan main dan seluruh keluarga melayaninya dengan sepenuh perhatian. Dengan menggunakan kesempatan itu, guru ku juga memberikan berbagai petunjuk pada kekurangan-kekurangan dari ilmu silatku. Tapi siapa nyana Pada tanggal lima belas Bulan tujuh, sesudah minum arak, tiba-tiba ia coba memperkosa isteriku Guru menodai kehormatan isteri muridnya adalah suatu kejahatan langka dalam Rimba Persilatan.

Melihat rahasianya terbuka, guruku memukul ayahku yang lantas saja binasa. Sesudah itu, dia membinasakan juga ibuku dan membanting Cia Boe Kie, anakku yang berumur belum cukup setahun Dengari cerita Gie-hoe!

Guruku membantingnya keras-keras, sehigga dia jadi perkedel! Tak bisa hidup lagi! So So mendelik sambil menggoyang goyangkan tangannya untuk melarang anak itu untuk menanya lagi. Sesudah bengong beberapa saat, barulah Cia Soen berkata lagi: "Melihat kejadian itu nyawaku terbang separuh dan aku berdiri terpaku sambil mengawasi dengan mata membelalak.

Tiba-tiba guruku me! Ketika aku tersadar, guruku sudah menghilang, sedang diseputar rumahku penuh mayat. Mayat ayah dan ibuku, isteriku, anakku, isteri adikku dan bujang-bujangku, semuanya berjumlah tigabelas jiwa.

Ia tidak memukul aku lagi, sebab rupanya ia duga aku sudah mati" "Sebab terluka, berduka dan bergusar secara melampaui batas, aku mendapat sakit berat sekali.

CA3140EZ PDF

Cerita Silat Karya Chin Yung dan Khu Lung

.

APRENDIENDO A QUERERSE A SI MISMO DE WALTER RISO PDF

Cerita Silat Cina

.

Related Articles