KHAWATIR IYAH PDF

Entong, yang nama aslinya Amin, segera mendongak begitu mendengar suara ibunya memanggil. Meski banyak anak laki-laki di lapangan itu dan Entong adalah panggilan yang jamak dipakai, ia tak akan tertukar mengenali siapa yang dipanggil. Lekuk alunan nada dan getaran rasa sayang di dalam suara ibunya sudah terpatri sejak Entong dalam kandungan. Entong yang sedang bermain gundu dengan kawan-kawannya segera berdiri mengiringi ibunya. Mereka terburu-buru pulang. Entong cemas sebab sudah satu minggu bapaknya terbaring sakit di rumah.

Author:Dikree Mogis
Country:Comoros
Language:English (Spanish)
Genre:Travel
Published (Last):25 September 2004
Pages:309
PDF File Size:1.68 Mb
ePub File Size:20.91 Mb
ISBN:128-5-69585-807-3
Downloads:43278
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Gujin



Entong, yang nama aslinya Amin, segera mendongak begitu mendengar suara ibunya memanggil. Meski banyak anak laki-laki di lapangan itu dan Entong adalah panggilan yang jamak dipakai, ia tak akan tertukar mengenali siapa yang dipanggil. Lekuk alunan nada dan getaran rasa sayang di dalam suara ibunya sudah terpatri sejak Entong dalam kandungan. Entong yang sedang bermain gundu dengan kawan-kawannya segera berdiri mengiringi ibunya.

Mereka terburu-buru pulang. Entong cemas sebab sudah satu minggu bapaknya terbaring sakit di rumah. Firasatnya mengatakan sesuatu yang buruk tengah menantinya. Entong adalah anak yang berwajah rupawan. Kulitnya bersih, hidungnya bangir, dan bibirnya bagaikan buah kenari. Rambutnya hitam berkilau dan matanya selalu bercahaya. Semasa muda, Bang Maman adalah jawara tangguh.

Sayang kemampuannya itu tidak disalurkan kepada hal-hal yang baik. Bang Maman justru menjadi tukang rampok dan begal yang meresahkan warga kampung. Jika ada musuh yang berani menantang, ia tak ragu-ragu mengayunkan celuritnya. Meski Mahmudah tak bosan-bosan mengingatkan suaminya itu, Bang Maman selalu tutup kuping.

Sampai akhirnya di akhir hidupnya, jelang sakaratul maut, Bang Maman ingin bertaubat. Kala melihat laki-laki separuh baya itu terbaring payah, Entong menempelkan tangannya di pipi sang bapak. Bang Maman membuka matanya, lantas membisikkan wasiat. Mahmudah memegang tangan suaminya. Namun, malaikat maut tak mau menunggu.

Usai membisikkan wasiat, mata Bang Maman terpejam pelan-pelan. Mahmudah histeris, dadanya naik turun karena kerasnya ia menangis. Entong hanya terpaku. Tak sedikit pun air mata menetes di pipinya. Seperti anak-anak kecil lainnya, dia belum paham benar arti kematian.

Sesuai wasiat, Entong dititipkan pada Guru Rojali untuk belajar mengaji dan ilmu agama. Umurnya dianggap sudah cukup untuk belajar, yakni 7 tahun. Terpilihnya Guru Rojali juga bukan tanpa sebab. Guru Rojali adalah guru yang kesohor di kampung itu.

Banyak muridnya datang dari mana-mana. Saat melihat Entong, mulanya Guru Rojali merasa enggan. Reputasi jelek Bang Maman sudah jadi buah bibir di mana-mana.

Namun sadar akan kewajibannya, mau jugalah ia menerima Entong menjadi muridnya. Maka sejak hari itu pagi-pagi benar habis Subuh, Entong sudah tiba di rumah Guru Rojali. Namun, perlakuan Guru Rojali kepada Entong agak berbeda. Tanpa disadarinya, Guru Rojali masih menyimpan prasangka. Air cucuran pastilah jatuhnya ke pelimbahan juga, begitu kata pepatah.

Ia menduga perangai Entong pastilah seburuk bapaknya. Maka jika setiap hari murid-muridnya diajari mengaji, Entong justru disuruh menyapu, mengepel, menimba air, dan melaksanakan tugas rumah tangga lainnya.

Entong tak pernah mengeluh dan menentang perintah sang guru. Dalam usia semuda itu, Entong paham perintah guru tentu patut dijunjung tinggi. Entong tampak kepayahan menyeret sapu yang besar dan berat itu. Sambil mengusap keringat di dahinya, Entong memandang kawan-kawannya yang sedang berkerumun di pintu langgar, menunggu kedatangan sang guru. Mereka mengenakan kain sarung yang berwarna-warni cerah, baju koko warna putih, dan membawa sebuah buku berisi huruf hijaiyah. Saat ia menunduk untuk kembali menyapu, matanya tertumbuk pada sendal kayu berwarna cokelat.

Ia mengangkat wajahnya dan menemukan wajah Guru Rojali. Entong buru-buru mencium tangan gurunya. Tangan Guru Rojali keriput, seperti juga wajahnya. Guru Rojali memelihara jenggot dan rambutnya sudah beruban. Peci putih selalu menutupi sebagian rambut di kepalanya. Selendang kuning yang dibawanya dari Tanah Haram melingkar di lehernya. Tongkat kayu tak pernah lepas dari tangannya, menambah kewibawaan guru yang sudah banyak mendidik murid-murid itu.

Tapi lu kan tahu sendiri si Sueb sekarang udah pergi mukim. Nanti kalau udah mateng lu bawain ke rumah gue. Entong menerima biji beton pemberian gurunya dengan senang. Sudah terbayang di kepalanya, tak lama lagi ia bisa mengaji. Alif fatah a, Alif kasroh i, Alif dommah u. Entong mengipas-ngipasi biji beton itu di atas bara dengan hati-hati.

Setelah biji beton itu matang, ditaruhnya biji itu dalam piring. Ia menghitungnya, tapi biji beton yang ada di hadapannya hanya sembilan. Kok ada sembilan, katanya dalam hati. Entong berusaha mencari satu biji beton yang hilang, tapi ia tak kunjung menemukannya.

Dengan perasaan takut dimarahi, Entong membawa biji beton bakar ke rumah sang guru. Guru Rojali menerima beton bakar pemberian Entong, lalu menghitungnya satu persatu. Sebenarnya tugas itu, selain menjadi syarat yang diberikan Guru Rojali, juga sebuah ujian. Tanpa disangka Guru Rojali, beton yang diberikan Entong berkurang satu. Beton sepuluh tinggal sembilan. Guru Rojali heran karena dia merasa memberikan sepuluh biji beton pada Entong tadi pagi.

Wah, bener dugaan gue, nih anak persis sama seperti bapaknya, suka nyolong, kata Guru Rojali dalam hati. Guru Rojali berusaha menutupi perasaan marahnya. Ia mempersilakan Entong duduk di hadapannya. Akhirnya, Entong diajari mengaji juga oleh gurunya.

Meski belum pernah sekali pun diajari mengaji oleh orang tuanya, ia tahu tak biasanya Guru Rojali mengajari demikian.

Namun karena patuh, ia mengikuti saja ucapan gurunya. Setelah memastikan Entong paham, Guru Rojali berpesan. Habis solat, lu hapalin tuh tadi yang gue ajarin.

Setiap hari setelah solat, ia mengulangi kalimat itu. Kelakuan Entong itu tentu saja membuat ibunya heran. Ia tahu betul perintah Guru Rojali itu aneh. Namun, demi menghargai nama besar Guru Rojali dan wasiat suaminya, Mahmudah membiarkan Entong mengulang kalimat itu seperti merapal mantra. Bulan demi bulan berlalu, Entong masih menjadi anak bawang di antara murid-murid Guru Rojali yang lain.

Membakar beton menjadi kewajibannya setiap pagi. Namun, dari sepuluh beton yang diberikan gurunya, selalu saja hilang satu biji saat dikembalikan. Maka, pelajaran mengaji Entong pun tak maju-maju dari beton sepuluh tinggal sembilan. Begitu seringnya pelajaran itu diberikan, Entong kini bahkan bisa menyanyikannya dengan merdu seperti anak-anak lain membaca Al-Quran dengan lagu maqom.

Besok ia berencana pergi menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya. Semua barang-barang sudah ia masukkan dalam tas besar berwarna hijau, berbentuk lonjong dengan resleting di atasnya dan tali untuk mencangklong.

Ada pula sahara, tas khusus berwarna biru yang ditalikan sebagai pengaman. Guru Rojali memasukkan aneka macam barang: pisau, ikan asin, beras, rokok, gula, kopi, teh, bahkan cobek untuk mengulek bumbu-bumbu. Perjalanan ke Mekah akan panjang. Perjalanan itu kira-kira memakan waktu satu bulan. Begitu sibuknya Guru Rojali sampai-sampai ia lupa memberitahu Entong yang sudah beberapa hari tidak datang karena sedang diare.

Keesokan harinya, Entong sudah sehat. Ia merasa bersemangat bisa kembali menemui guru yang dicintainya. Namun, Entong merasa heran karena pagi itu ia tidak menemukan kesibukan di langgar Guru Rojali. Tak ada anak-anak mengaji, membaca salawat, atau menyuarakan azan.

Entong berlari menuju rumah sang guru. Hanya ada seorang kakek, Engkong Muid, tetangga Guru Rojali, di sana. Entong pun bertanya kepada Engkong Muid.

ACOG FLOWSHEET PDF

DONGENG BETAWI: KISAH SI ENTONG DAN BIJI BETON

Rukiyah atau biasa dipanggil Mak Iyah, tinggal seorang diri di rumah tak layak huni di tengah hamparan kebun sayuran. Ia mengaku sudah berusia tahun. Pantauan Kompas. Tiga bilah bambu dijadikan penopang dinding agar tidak ambruk.

GLOSARIO TEOSOFICO BLAVATSKY PDF

Kisah Pilu Mak Iyah, Hidup Sebatang Kara di Gubuk Reyot

.

FLUKE DTX-MFM2 PDF

.

EINHELL BT-SB 200 PDF

.

Related Articles